Berita Terbaru

Teknologi Pustekbang

Kegiatan Pustekbang


Program Pesawat Transport Nasional
Pesawat N219 bermesin 2 memiliki spesifikasi jumlah penumpang untuk 19 orang, jarak jangkauan 1.111 km, berat muatan maksimum 2500 kg, dan panjang landasan 465 m. Sesuai dengan Nota Kesepahaman antara LAPAN dan PT.DI tentang kerjasama dibidang pengembangan teknologi dirgantara tahun 2009, melaksanakan Peraturan Presiden no. 28 tahun 2008 tentang penunjukan LAPAN sebagai pusat R & D produk kedirgantaraan untuk pesawat penumpang dibawah 30 orang serta didukung oleh terbitnya undang-undang penerbangan no.1 tahun 2009 tentang pemberdayaan industri dan pengembangan teknologi penerbangan, LAPAN turut serta dalam pengembangan pesawat baru N219.

Proyek N219 melibatkan banyak lembaga terkait di Indonesia dengan kegiatan-kegiatan yang meliputi: perencanaan, pendanaan, rancang bangun, sertifikasi, pemasaran dan penggunaan. Lembaga yang secara intensif pada saat ini berkoordinasi untuk mensukseskan proyek N219 adalah Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BAPPENAS, Kementerian Riset dan Teknologi, BPPT, dan LAPAN. Semua lembaga terkait diharapkan dapat memfungsikan diri sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing lembaga untuk mendukung proses rancang bangun N219.

Selain itu, LAPAN selaku sekretaris DEPANRI telah melakukan kajian dan seminar yang menghasilkan laporan tentang pengembangan pesawat N219 untuk mendukung transportasi di daerah terpencil di Indonesia dengan menggantikan armada pesawat perintis yang sudah tua.

Pada tahun 2011, LAPAN telah melakukan pengujian Wind Tunnel Power Off sebanyak 160 polar, dengan disertai program peningkatan kompetensi SDM peneliti LAPAN berupa On Job Training di PT.DI selama 2 bulan belajar mengenai dasar-dasar teknologi penerbangan.  Pada tahun 2012, LAPAN mengadakan model uji wind tunnel pesawat N219 skala 1:6,3 dan melaksanakan pengujian wind tunnel power on sebanyak 380 polar. Selain itu, LAPAN juga turut serta dalam analisa data hasil uji wind tunnel untuk pencapaian desain akhir konfigurasi pesawat N219.

Pada tahun 2011, LAPAN melakukan pengujian model pesawat N219 wind tunnel power off sebanyak 160 polar, untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai validasi dari desain konsep dan penentuan desain tahap awal.

Pada tahun 2012, LAPAN mengadakan 1 unit model uji wind tunnel power on, melakukan pengujian wind tunnel power on sebanyak 380 polar (2012), serta melakukan kerjasama penelitian dan pengembangan High Lift Device dan Winglet sayap untuk meningkatkan performasi STOL pesawat N219. Perguruan Tinggi (ITB) juga mengikutsertakan tenaga SDM Penerbangan dalam pengembangan N219.
  
Pada tahun 2013, LAPAN melanjutkan kerjasama penelitian dengan PTDI mengenai perancangan Winglet untuk peningkatan performansi Take-Off dan Landing, dan juga penelitian simulasi CFD dan analisa aerodinamika pesawat N219 dengan menggunakan fasilitas Kluster Komputer yang dimiliki LAPAN.




Gambar 1.18 Program pengembangan pesawat transport Nasional

Sebelum kontrak antara Lapan dengan PTDI diadakan, telah dilakukan beberapa kali pertemuan untuk membahas pola kerjasama dalam pembagian kerja antara Lapan dengan PTDI. Hasil kesepakatan tersebut, seperti dalam gambar 18, LAPAN bertanggung jawab pada penentuan Mission dan Preliminary Concept, Peliminary Desain, Detail Desain, Pengawasan Proses Manufacture, Proses Integrasi dan Test. Dan di akhir tahun 2015, Lapan mendapatkan output berupa 2 pesawat untuk uji terbang dan 2 pesawat (tanpa mesin) untuk uji statik. PTDI dalam hal ini mempunyai kewajiban untuk melakukan aplikasi sertifikasi ke DKPPU (Dirjen Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara), menjalani proses sertifikasi, pengajuan First Flight Permit dan pencapaian Type Certificate pada tahun 2018. Agar pesawat N219 dapat diproduksi secara masal memenuhi kebutuhan akan transportasi perintis di Indonesia pada khususnya. Selain itu, PTDI akan menyediakan alat-alat produksi, melakukan marketing dan after sales service untuk produk N219 yang akan dipasarkan.

Pada tanggal 25 februari 2014 ditanda tangani kontrak pengadaan barang dan kontrak konsultansi pembuatan dokumen desain pesawat N219. Dan disusul bulan maret mendatang akan diadakan kontrak sewa laboratorium uji. Untuk kontrak konsultansi pembuatan dokumen desain pesawat N219, akan menghasilkan output berupa Dokumen Desain Tahap I, Dokumen Production Drawing Tahap I, Dokumen Production Drawing Tahap II. Seluruh Output Detail desain tersebut akan digunakan untuk membuat Tools dan Jig (alat cetak), untuk memproduksi seluruh komponen struktur yang diperlukan untuk membangun 4 buah airframe pesawat N219. Untuk kontrak pengadaan barang, akan menghasilkan output berupa Alat DropTest, Engineering Flight Simulator, Mockup Calss III dan seluruh komponen yang diperlukan bagi 4 pesawat N219 seperti Airframe, Engine, Avionic, ECS, Windshear, Landing Gear, Payload, Propeller dsb.

Peran SDM LAPAN dalam program pengembangan N219 disesuaikan dengan Tupoksi dan peran bidang masing-masing. Pada program ini, telah terlibat 28 staff Engineering Pustekbang yang terdiri dari para peneliti dan perekayasa, menjalani ToT (Transfer of Technology) di PT.DI mulai dari bulan maret sd desember 2014. Seluruh staff LAPAN terjun langsung dalam pembuatan desain struktur, desain performansi, analisa aerodinamika, perhitungan stability and control, desain power, desain engineering flight simulator, desain avionic system, pembuatan manual regulasi dan sebagainya dalam 14 spesialis keahlian teknologi pesawat terbang. Dari beberapa staff LAPAN yang bekerja di desain center N219 di PTDI Bandung, beberapa diantaranya mempunyai tugas penting dalam desain dan analisa struktur kursi pesawat, desain dan analisa skin reinforcement untuk wing, analisa engine performansi dsb. Diharapkan dengan keterlibatan SDM LAPAN dalam program pengembangan N219 ini, dapat membantu kesuksesan program dan dimasa mendatang, LAPAN mempunyai SDM yang ahli dalam penguasaan teknologi penerbangan.

Tahun 2014 lebih dominan adalah proses pengadaan barang, seperti hardware (komputer high end) dan software yang digunakan dalam pembuatan detail desain. Yang kemudian hasil detail desain tersebut dimanfaatkan untuk membuat Tools and Jig (cetakan) seluruh komponen struktur pesawat yang terdiri dari ribuan unit komponen. Selain itu, pada tahun 2014 juga telah dibangun fasiltias uji berupa Drop test dan Engineering Flight Simulator. Drop test ini diperlukan untuk uji sertifikasi landing gear yang akan digunakan untuk pesawat N219 maupun pesawat baru dimasa depan. Engineering Flight Simulator saat ini dititipkan di hanggar N219 PTDI Bandung, sebagai wahana input model matematika untuk mengetahui perilaku terbang pesawat sebelum pesawat N219 terbang pertama kalinya (first flight). Juga sebagai wahana pengenalan test pilot terhadap handling quality (cara menyetir) pesawat N219 sebelum terbang perdana. Alat ini sangat diperlukan bagi Pusat Teknologi Penerbangan dalam penelitian dan pengembangan pesawat-pesawat terbang baru dimasa mendatang.

Pada tahun 2015 program N219 dominan untuk proses integrasi dan testing. Seluruh komponen yang sudah dibuat dan diadakan pada tahun 2014, di integrasikan pada bulan januari sd Oktober tahun 2015. Pada tanggal 10 Desember 2015 telah dilaksanakan acara seremoni Roll-Out Pesawat N219 yang dihadiri beberapa menteri kabinet dan Stakeholder yang diselenggarakan di hanggar N219 PT.DI Bandung.

Pada tahun 2016-2017 program pesawat N219 yang direncanakan menghasilkan output 2 prototipe terbang (PD1 dan PD2) dan 2 prototipe test article (TD1 dan TD2). Integrasi dan Ground Test dilakukan untuk memastikan kesiapan uji terbang pertama. Sebelum menjalani uji terbang perdana, telah dilakukan serangkaian pengujian dimulai dari Wing Static Test, Functional Test, Landing Gear Drop Test, dan Medium Speed Taxiing di halaman apron hanggar PTDI. Pada tanggal 9 Agustus 2017, dilakukan uji high speed taxiiing dan hopping yaitu pengujian berjalan dengan kecepatan tinggi di landasan pacu dan mengangkat roda depan, dan kemudian mendarat lagi tepat sebelum airborne. Pengujian hopping ini untuk memastikan sistem avionik, sistem hidrolik dan sistem dapat berfungsi dengan baik untuk memastikan semua sistem bisa berjalan baik.

Pada tanggal 16 Agustus 2017 telah dilakukan uji terbang perdana pesawat N219 di landasan pacu Husein Sastranegara dihadiri seluruh pejabat LAPAN, Direksi PT.DI dan seluruh pegawai PT.DI. Setelah uji terbang perdana ini, test, analisa dan improvemnet tidak berhenti sampai disini saja, pesawat N219 masih harus melalui tahap Fatigue Test 3000 Flight Cycle, Flight Test Certification sebanyak 350 FH untuk mendapatkan Type Certification di tahun 2018 ini.

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh badan pengatur dalam hal ini yang berwenang d wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan. Diharapkan pada tahun 2019 nanti purwarupa pesawat pertama N219 sudah siap dan laik untuk memasuki pasar. Dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang kompetitif.

Pada gambar 1.18 menjelaskan tentang roadmap pengembangan pesawat transport nasional, dimulai dengan pengembangan pesawat N219 yang dinisiasi pada tahun 2011 dan diharapkan selesai sertifikasi di tahun 2018. Setelah itu, direncanakan desain pesawat N219 Amphibi yang dapat mendarat di darat dan di perairan dengan ketinggian maksimum ombak 0,3 meter. Program tersebut dimulai pada tahun 2018 dan diharapkan dapat diuji terbangkan pada tahun 2020 mendatang. Pesawat N219 Amphibi diharapkan dapat melayani penerbangan pendek dari bandara hub menuju tempat pariwisata perairan maupun sungai-sungai besar sehingga dapat memperpendek waktu tempuh dibandingkan melalui jalur darat. Pada tahun 2019 hingga 2022 akan dikembangkan pesawat N245, pesawat bermesin 2 dan berkapasitas hingga 52 penumpang merupakan modifikasi pesawat CN235 produksi PTDI dengan menghilangkan Ramp-door untuk menambah kapasitas penumpang. Sedangkan pada tahun 2023 sd 2029 akan di kembangkan pesawat N270 yang berkapasitas sd 90 penumpang yang merupakan upgrading dengan menambah frame fuselage pada pesawat N245 sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Sedangkan pesawat R-80 merupakan pesawat desain dari PT.RAI yang berkapasitas sama dengan N270, yang apabila jadwal rencana pengembangannya sama dengan N270 maka akan dipilih salah satu jenis pesawat saja mengingat kapasitas SDM dan resource yang akan diserap untuk membangun pesawat ini dari sumber yang sama yaitu PTDI.

Kontak kami :
Pusat Teknologi Penerbangan
Jl. Raya LAPAN Rumpin Bogor Jawa Barat
Telepon (021) 75790383 Fax. 75790383

 
my widget for counting
Visitors
© 2017 - Pusat Teknologi Penerbangan