Berita Terbaru

Teknologi Pustekbang

Kegiatan Pustekbang


DEPUTI TEKNOLOGI SAKSIKAN DAN BERIKAN ARAHAN PADA PENANDA TANGANAN PERJANJIAN KERJA, SASARAN KERJA PEGAWAI DAN RENAKSI 2019 DI LINGKUNGAN PUSTEKBANG LAPAN
Penulis Berita : TriWid • Fotografer : TriWid • 31 Jan 2019 • Dibaca : 22 x ,

Bertempat di ruang Aula Garuda lantai 2 Pusat Teknologi Penerbangan Rumpin, pada Kamis (31/01) Deputi Teknologi Penerbangan dan Antariksa, Dr. Rika Andiarti hadiri dan saksikan acara Penandata tanganan Perjanjian Kerja (PK), Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dan Rencana Aksi (RA) 2019 untuk seluruh Kepala Program, Group Leader, Leader serta seluruh pegawai di lingkungan Pustekbang LAPAN.

Kegiatan diawali dengan paparan program kegiatan 2019 oleh Kapustekbang, Drs. Gunawan S. Prabowo, MT, dilanjutkan dengan paparan program dari Kaprog Maritime Surveilance System (MSS) , Ir. Atik Bintoro, MT., kemudian paparan dari Kaprog Pesawat Transport Nasional, Ir. Agus Aribowo, M.Eng, lalu paparan dari Kaprog Diseminating Capacity, Dipl.Ing. Agus Bayu Utama, M.Sc.ME, serta terakhir, paparan dari Kaprog Absorprting Capacity, Encung Sumarna, ST.

Selesai paparan program, dilanjutkan dengan arahan dari Deteknologi. Dalam arahannya beliau sampaikan, “Pemotongan Tukin bukan menjadi tujuan mengapa kita harus membuat Penetapan Kinerja dan juga Rencana Aksi dengan main-main”. Bahwa sekarang ini memang Kinerja menjadi penilaian utama untuk semua ASN dimanapun berada.

Beliau juga mengingatkan, “Kalau di awal mungkin persyaratan pemberian tukin baru berkisar pada aspek kerapihan absen, dan sekedar ketaatan mengisi logbook ataupun menulis laporan bulanan, maka Tukin sudah aman. Nah, sekarang persyaratan semakin meningkat lagi, seiring dengan meningkatnya anggaran Tukin yang diberikan oleh pemerintah. Sekarang sudah Kinerja yang dilihat. “Apakah akan sama saja Tukin 50%, 70% dan 80% ? tanya beliau. Kini saatnya kita dituntut untuk terus dan terus meningkatkan kinerja. Karena nantinya substansi dari laporan itu sendiri yang akan dilihat dan dinilai. Tidak boleh ada dan terjadi lagi laporan peneliti yang sama antara bulan sebelumnya dengan bulan setelahnya. Untuk itu sistem monitoring dan evaluasi harus diterapkan dengan baik.

Beliau menjelaskan, dengan menggunakan sistem aplikasi manajemen kinerja yang sudah ada, maka masing-masing atasan, mulai dari Leader, Group Leader, dan Kepala Program semuanya harus bertanggung jawab dengan substansi kinerja di bawahnya, walaupun secara resmi struktural yang akan menilainya. Tetapi karena ini sistem kerekayasaan, maka atasannya tidak boleh main-main atau melindunginya. Karena kinerjanya tahun ini akan diaudit.

Kita semuanya dan Instansi LAPAN pun sekarang dinilai kinerjanya. Karena sistem anggaran pemerintahan sekarang pun berbasis kinerja. Jadi kita dalam menetapkan program, sekarang ini sudah tidak bisa lagi semaunya sendiri. Pemerintah sudah menetapkan program nasional. Terkait dengan program N219 dan N219A Pustekbang yang termasuk dalam program nasional, itupun ada resiko untung dan ruginya, jelas beliau.

“Apa untungnya ? Keuntungan masuk dalam program nasional, manakala ada penghematan, manakala ada pembahasan, ada alasan untuk tidak dikurangi. Karena program nasional harus disukseskan, karena ada output yang sudah ditargetkan untuk diselesaikan”. “Tapi ruginya apa ? Dengan masuknya ke program nasional, maka saat kita ingin melakukan kegiatan atau pembangunan yang tidak berhubungan langsung dengan program nasional, maka kegiatan tersebut cenderung akan tercekal. Jadi semuanya harus terhubung dampaknya ke program nasional”, tegas beliau.

Sampai tahun ini semua program yang ada di Deteknologi juga masuk menjadi prioritas nasional, dengan target-target dan ouput yang harus dicapai. Meskipun anggaran kita sangat terbatas, namun program dan kegiatan yang akan dilakukan cukup banyak. Berarti kita punya energi yang bisa melakukan kegiatan yang cukup banyak.

Deteknologi juga mengingatkan mengenai pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap potensi-potensi para peneliti, perekayasa muda dan juga fungsional-fungsional muda lainnya. Beliau mengharapkan, dengan banyaknya program, maka tantangan yang diberikan kepada mereka harus lebih besar lagi, agar mereka lebih berkembang knowledgenya, skillnya dan lain-lainnya. ”Jadi jangan sampai program yang besar dan banyak itu hanya dipaparkan saja di atas kertas, tetapi bagaimana agar program-program tersebut dapat terdistribusi kepada mereka semua. Bahkan mungkin yang punya potensi dan punya semangat lebih besar harus diberikan tugas dan tantangan yang lebih besar juga”, pesan beliau.

Kemudian, diakhir tahun Renstra 2014-2019 ini, Deteknologi melihat, di Pustekbang kalaupun ada sliding atau keterlambatan-keterlambatan, namun dari hasil evaluasi, tidak terlalu banyak. Namun di tempat lain cukup banyak slidingnya, karena asumsi awal yang kita pakai untuk menyusun renstra tidak terpenuhi, terutama di masalah anggaran.

Beliau juga menyampaikan, Kedeputian Teknologi di LAPAN mungkin yang paling butuh anggaran yang sangat besar, tentunya bukan lagi seratusan milyar lagi tapi sudah trilyun. Dan untuk hal tersebut, memang cukup sulit untuk meyakinkan stakeholder yang lain bahwa antariksa ini sangat penting. Karena kita masih berfikir mengenai kesejahteraan yang belum merata, dan prioritas nasional sendiri tidak pernah mengatakan mengenai pentingnya pesawat terbang. Namun prioritas nasional masih berorientasi pada bagaimana mengurangi kemiskinan, bagaimana mengurangi kelaparan, bagaimana kesehatan bisa diakses oleh semua orang, serta bagaimana pertahanan keamanan bisa dirasakan oleh semua masyarakat.

Dan yang mungkin bisa didukung oleh LAPAN adalah tentang pembangunan ekonomi yang berkeadilan, melalui upaya pengembangan konektivitas antar pulau atau wilayah. Jadi pesawat transport nasional N219 dan N219A bisa masuk ke lingkup konektivitas nasional, dan bisa menjadi prioritas nasional. Sementara program-program yang lain di LAPAN masih harus menyesuaikan dengan cakupan atau ruang lingkup yang relevan dengan prioritas nasional.

Deteknologi juga menyampaikan, menjelang penyusunan Renstra 2020-2024 yang akan datang, sekiranya ada ide ide baru dan gagasan-gagasan baru dari Pustekbang agar segera diusulkan untuk dimasukkan ke Renstra 2020-2024. Namun beliau juga mengingatkan, agar usulan Renstra tersebut tetap harus realistis dengan kemampuan anggaran pemerintah yang ada. Deteknologi mengharapkan Renstra Pustekbang ke depan adalah renstra milik semuanya. Renstra yang menggambarkan gagasan semuanya, dan bukan hanya renstra yang terpikirkan oleh Kapus atau Kabid saja, tetapi betul-betul menjadi tekad semua pegawai Pustekbang dan direncanakan serealistis mungkin.

Kemudian Deteknologi juga menjelaskan, dalam upaya penataan SDM pun LAPAN telah melakukan reorganisasi, yaitu mulai tahun 2001, 2007 dan terakhir pada tahun 2015. “Kita juga akan melihat nanti Visi LAPAN 2020-2024 seperti apa, apakah dengan organisasi yang ada masih bisa memenuhi dan mencapai target sesuai dengan visinya ?”ujar beliau. Hal ini dikarenakan, salah satu target reformasi birokrasi adalah efisiensi. Kalau birokrasi belum efisien, berarti reformasi birokrasi belum berhasil. Disegala bidang efisiensi ini harus dilaksanakan, bukan hanya di bidang anggaran, tetapi juga di dalam pengelolaan SDM nya.

Beliau menyampaikan, bahwa pengelolaan SDM itu harus dibagi dalam empat kuadran, dimana Kuadran pertama, mewakili SDM yang berkinerja bagus dan kompetensinya juga sesuai. Sudah pasti orang tersebut akan berprestasi, jadi tidak perlu penanganan khusus. Lalu kuadran kedua, mewakili SDM yang memiliki kinerjanya bagus, tetapi kompetensinya belum pas. Untuk yang seperti ini perlu diberikan pelatihan Hard Skill Training atau Pelatihan Teknis yang sesuai untuk meningkatkan kompetensinya.

Kemudian kuadran ketiga, mewakili SDM yang memiliki kinerja yang rendah, namun kompetensinya tinggi. Maka untuk yang seperti ini sebaiknya diberikan Soft Skill Training seperti Peningkatan Motivasi Kerja dsb.

Terakhir kuadran keempat, mewakili SDM yang kinerjanya rendah dan kompetensinya juga rendah. Kategori ini yang menjadi masalah besar dan tidak mendukung efisiensi birokrasi. Mereka ini perlu diupgrade dengan memberikan pelatihan di bidang Hard Skill dan Soft Skill dalam berbagai hal secara intensif, agar tidak lagi menjadi beban bagi organisasi.

Deteknologi menyarankan Kapustekbang untuk segera memetakan potensi SDMnya, dan melengkapi dengan program upgrade untuk peningkatan kompetensi SDMnya. Beliaupun menghimbau semua pegawai untuk memperlihatkan semangat kerja yang tinggi, kalau kompetensinya masih kurang silahkan minta untuk diupgrade kompetensinya, agar bisa melaksanakan dan menyelesaikan kegiatan-kegiatan yang diberikan.

Kemudian beliaupun mengapresiasi program-program yang sudah dilakukan oleh Pustekbang selama ini, termasuk inisiasi membentuk IAEC dan menjalin kemitraan dengan INACOM. Namun beliau mengingatkan kembali, bagaimana caranya agar para SDM muda, sekecil apapun perannya sudah harus bisa berkontribusi secara langsung di dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Karena kata kunci untuk ke depan, yaitu masalah sinergi dan hilirisasi. Bappenas dan semuanya mulai melihat itu. Kalau tidak kelihatan sinerginya, hanya LAPAN sendirian dan hasilnya pun tidak bisa dinikmati oleh orang lain, maka bisa dicoret programnya,” tegas beliau. Beliau juga menegaskan, “Meskipun anggaran penelitian sekarang terbatas, namun tidak boleh dijadikan hanya sebagai pemuas hasrat (passion) sebagai peneliti atau perekayasa semata, namun juga harus berorientasi pada ending outcome risetnya”. (tw)


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
Pusat Teknologi Penerbangan
Jl. Raya LAPAN Rumpin Bogor Jawa Barat
Telepon (021) 75790383 Fax. 75790383

 
my widget for counting
Visitors
© 2017 - Pusat Teknologi Penerbangan