IAEC dan Pustekbang Satu Misi Wujudkan Kemandirian Penerbangan Nasional
By admin, 19 Dec 2016
Pengesahan struktur organisasi Indonesia Aeronoutical Engineering Center (IAEC) masa bakti 2016 - 2019 di Kantor Pusat Teknologi Penerbangan, Rumpin pada 19 Desember 2016 oleh Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menjadi awal efektifnya kepengurusan organisasi IAEC.

Gagasan awal untuk membangun kedaulatan teknologi di bidang pesawat terbang yang dipelopori oleh Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, IAP (Ikatan Alumni Penerbangan) ITB, dan IASI (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia - Jerman) merupakan titik awal terbentuknya IAEC (Indonesia Aeronautics Engineering Center).

IAEC adalah komunitas tempat berkumpulnya para penggiat teknologi penerbangan (aeronautical engineering) baik dari kalangan akademisi, peneliti, praktisi, maupun pelaku bisnis.

Sesuai visi IAEC yaitu "Menjadi Partner Global Bidang Rekayasa Industri Pesawat Terbang", dengan kata kunci "global partner" dan "aircraft engineering". Artinya, bermitra dengan industri pesawat terbang dunia adalah jalan yang akan ditempuh untuk menguasai aspek engineering yang merupakan ruh dari industri pesawat terbang.

LAPAN mendukung visi IAEC, hal ini disampaikan Kepala LAPAN bahwa “Program pemerintah saat ini dilaksanakan bukan berbasis pada fungsi institusi tetapi berbasis pada program. Adapun program prioritas nasional pelaksanaannya disinergikan dengan kementerian, lembaga, BUMN dan pemerintah daerah. Pola pembangunan seperti ini juga memungkinkan LAPAN bersinergi dengan IAEC guna membangun kemandirian di bidang teknologi penerbangan,” paparnya.

Ketua IAEC 2016-2019, Hari Tjahjono mengatakan, untuk mewujudkan mimpi besar di bidang engineering penerbangan, IAEC akan menjalin kemitraan strategis dengan seluruh pemangku kepentingan industri penerbangan, seperti LAPAN, PT.DI, PT. RAI, dan GMF. Kerja sama global akan dilakukan dengan Airbus dan Boeing. Kemitraan strategis ini diperlukan untuk pengembangan inovasi pesawat terbang serta akses pada pasar industri penerbangan tingkat nasional maupun global. Untuk itu, IAEC akan melakukan pelatihan bagi anggotanya. Sehingga anggota IAEC siap mejalin kemitraan strategis dengan industri penerbangan global. Dengan lahirnya IAEC industri penerbangan akan lebih eksis.



“Berkaca pada India yang dalam waktu singkat bisa merajai pasar aircraft engineering, membuat saya mempunyai harapan bahwa suatu saat Indonesia akan mencapai titik yang sama. Hal ini didasari pada potensi perekayasaan aeronautika dan semakin meningkatnya penggunaan pesawat terbang di Indonesia.”, tambah Hari.

Beliau menambahkan, “itulah yang dilakukan India dengan menjadi global partner dari Airbus Industri di bidang rekayasa pesawat terbang. Dengan cara seperti ini, tiba-tiba saja India kini memiliki ribuan insinyur rekayasa pesawat terbang yang menguasai teknologi terbaru. Alih-alih menggunakan strategi "I will beat you", India memilih strategi "I will support you" kepada industri pesawat terbang dunia.”

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang), Gunawan Setyo Prabowo mengatakan, Pustekbang berkewajiban membina IAEC sesuai dengan UU baik dari aspek keilmuan maupun kelembagaan. Ia sangat fokus dalam menjalin komunikasi dengan pihak IAEC. Teknologi penerbangan di negara manapun selalu didukung oleh ekosistem yang komplit, baik dari kalangan industrialisasi, engineer, dan pemerintah.

Menurutnya, komunitas ini tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Pustekbang merupakan siklus dari kebutuhan karena saat ini, seluruh litbang pemerintah harus mempunyai hilir. Beliau menambahkan, “saya yakin sekali interaksi Pustekbang dengan litbang pemerintah, litbang UKM, dan libang industri akan melahirkan ide-ide baru untuk mengarahkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.” Untuk itu, IAEC harus bisa menangkap peluang pergeseran ekonomi penerbangan dari Eropa, Amerika, sampai ke Asia.

IAEC dibentuk dengan anggota berjumlah 26 perusahaan engineering bidang penerbangan. Harapannya, jumlah keanggotaan dapat mencapai 200 agar penguasaan teknologi penerbangan lebih tersebar merata di sejumlah perusahaan, termasuk usaha kecil menengah (UKM). Kepala LAPAN ditunjuk sebagai Dewan Pembina IAEC, sedangkan Dewan Pengawas dimandatkan kepada Kepala Pusat Teknologi Penerbangan.